MENULIS
CERITA ANAK
Oleh:
Maula Fatimah Azzahra
Seperti halnya cerita fiksi yang
lain, cerita anak memiliki unsur intrinsik yang tidak jauh berbeda, yaitu penokohan, alur, latar, gaya bahasa, dan amanat. Perbedaan mendasar antara
cerita anak dengan cerpen sastra biasanya terletak pada gaya bahasa dan cara
menyampaikan amanat. Cerita anak adalah cerita yang diperuntukkan untuk anak.
Oleh karena itu biasanya bahasa yang digunakan lebih sederhana, sehingga mudah
dimengerti oleh anak-anak.
Untuk
unsur intrinsik cerita anak biasanya lebih dimampatkan dan lebih terpusat pada
3 unsur intrinsik berikut.
1. Penokohan
1. Penokohan
Penokohan adalah hal
yang penting dalam sebuah cerita. Tanpa penokohan sebuah cerita tidak mampu
disampaikan dengan baik, karena tokoh dan penokohanlah yang bertugas
menyampaikan suatu pesan atau pun peristiwa dalam cerita.
Dalam cerita anak yang
terdapat dalam majalah Bobo ditemukan kecendrungan penokohan yang sederhana. Tokoh-tokoh
digambarkan secara langsung dan watak tokoh-tokoh tersebut digambarkan secara
datar, tanpa permasalahan psikologis yang rumit. Hal itu disebabkan karena pada
usia 7 sampai 12 tahun anak-anak belum mampu mencerna permasalahan psikologis
yang rumit.
Beberapa contoh:
“Vega sebenarnya anak
gadis yang manis. Andai saja ia mau menghilangkan kebiasaan isengnya. Di
kompleks perumahan tempat Vega tinggal, tidak ada anak perempuan yang sebaya
dengannya. Jadi Vega biasanya bermain dengan anak laki-laki. Itulah sebabnya ia
menjadi tomboy.” (Korban Keisengan
Vega-Pipit Indra HS-Kumpulan Cerpen Pustaka Ola 35)
“Cecilia selalu
menyediakan sirup dan remah kue di pelataran rumah bonekanya. Ia menyediakan
handuk-handuk kecil untuk mengeringkan tubuh basah para peri. Mereka bermain,
dan bercanda bersama. Cecilia sangat menyayangi para peri. Sebaliknya, para
peri menyayangi Cecilia.” (Cecilia dan Hangatnya Persahabatan-Angela Oscario-Kumpulan
dongeng Pustaka Ola 82).
“Ketika Pangeran Hobin
naik tahta, sesuatu terjadi seperti duggaan semua orang, seluruh dinding istana
diberi lapisan cermin. Dan semua orang tahu apa sebabnya, karena Hobin sangat
mengagumi dirinya sendiri.”(Istana Cermin-Rae Sitta Patappa-Kumpulan Dongeng
Pustaka Ola 83)
” Tujuh hari lagi, seratus
pesanan bantal milik Bibi Prula harus selesai dan diantar ke rumahnya.
Sedangkan bantal yang sudah dibuat Riko baru empat puluh. Masih kurang banyak.
Riko biasanya hanya dapat menyelesaikan duabelas buah bantal dalam satu minggu.”(Bantal
Satu Jam-Maula Fatimah Azzahra)
2. Alur
2. Alur
Alur (pengaluran) merupakan urutan peristiwa yang
terdapat dalm cerita. Kebanyakan cerita anak menggunakan alur maju. Tidak/jarang
ditemukan alur mundur dalam cerita anak, apa lagi alur maju-mundur (flash
back).
3. Latar
3. Latar
Latar terdiri dari
latar waktu, tempat, suasana, dan latar social. Kehadiran sebuar latar yang
kongkret menghadirkan kesan realistis kepada pembaca. Dalam cerita-cerita anak
ditemukan penggambaran latar tempat yang sangat jelas, sehingga pembaca langsung
bisa menentukan di mana tempat terjadi peristiwa. Latar waktu atau masa kurang
jelas digambarkan, begitu juga dengan latar sosial.
Latar tempat yang sering digunakan
biasanya di sekolah, rumah, hutan, istana, sungai, dsb.
Cerita anak dalam majalah di Indonesia sangat
beragam bentuknya. Beberapa model cerita anak antara lain bias dikembangkan
dalam model berikut ini: cerita realis, cerita misteri/ detektif-detektifan,
cerita misteri/horror, cerita komedi, cerita futuristik, dan cerita momentum.
Jika ingin membuat cerita anak dan
mengirimnya ke media, terlebih dahulu pelajari (baca sebanyak-banyaknya)
cerita-cerita yang biasa dimuat di media tersebut. Segera tulis ceritamu jika
telah ada ide, sebelum mood menulis dan idenya hilang. Lalu segera kirim ke
media. Dan, jangan menunggu sampai cerita dimuat baru menulis lagi. Terus
membaca dan terus menulis.
Semoga sukses!
(Materi disampaikan penulis di Padepokan Aksara UKM Penulis UM pada Rabu, 19 November 2013)
No comments:
Post a Comment